Erynalisya
"Mengapa Kakak tidak membunuhku? Aku bisa saja mengkhianatimu."
Pedang yang diarahkan kepada Pangeran Kedua hanya berjarak sejengkal dari lehernya. Pangeran Kedua berlutut, menatap kakaknya dengan tatapan yang penuh keputusasaan.
Pangeran Pertama memandang adiknya yang nyaris terbunuh di tangannya sendiri.
Para Shadow menyaksikan adegan itu dengan waspada, siap menunggu perintah dari Pangeran Pertama.
Di tengah aula istana yang dipenuhi mayat, hanya tersisa Pangeran Kedua yang masih hidup.
"Apakah kau akan membunuhku?" tanya Pangeran Pertama dengan suara rendah.
Keheningan menyelimuti ruangan, hanya suara angin yang terdengar samar.
Mata Pangeran Kedua yang berwarna kuning keemasan bersinar, menatap kakaknya dengan tajam.
"Tidak... Daripada aku membunuhmu, lebih baik aku mengakhiri hidupku sendiri," ucapnya sebelum meneguk racun yang berada di tangannya.
Suara pedang yang terjatuh bergema ketika Pangeran Pertama menjatuhkan racun tersebut dari tangan adiknya, mencengkeram kerah bajunya dengan erat. Botol kaca itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Racun itu belum sempat diminum oleh Pangeran Kedua.
"Bodoh! Aku tidak akan membiarkanmu mati setelah semua ini. Hiduplah bersamaku di istana ini, bunuh saja orang-orang yang kau benci. Aku adalah kakakmu, mintalah apa pun dariku!".
Pangeran Pertama berkata dengan nada keras, lalu menendang adiknya dengan frustrasi.
"Shadow! Pastikan Pangeran Kedua tidak melakukan perkara yang bodoh!" serunya kepada para Shadow istana.
"Siap!" jawab mereka serempak.
Pangeran pertama kemudian beranjak meninggalkan aula, meninggalkan adiknya dan jejak pertumpahan darah.