Daftar Bacaan Al-Mahdawi
2 stories
Pelangi Di Bumi Pertiwi by Al-Mahdawi
Al-Mahdawi
  • WpView
    Reads 221
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 14
"Pelangi Di Bumi Pertiwi" adalah buku Sejarah Cirebon yang dikemas dalam bentuk buku cerita, yang substansinya diambil dari dua buku karangan penulis sendiri, yaitu: "Kesultanan Cirebon" dan "Cirebon antara Kesultanan, Perjuangan, dan Pesantren". Di dalam dua buku tersebut penulis mencantumkan berbagai sumber pengambilan baik dari buku-buku sejarah Cirebon, website, ataupun hasil wawancara langsung dengan tokoh-tokoh tertentu. Sementara itu, di buku ini penulis tidak mencantumkan sumber-sumber tersebut, dan menyusunnya dalam bentuk cerita fiksi tanpa keluar dari substansi. Buku ini diperkaya dengan dialog-dialog yang kebanyakan adalah karangan Penulis sendiri dan Insya Allah mengandung pesan-pesan moral, juga dibuat gambaran dari kejadian dalam bentuk khayalan yang bisa menghidupkan imajinasi. Buku "Pelangi Di Bumi Pertiwi" sengaja dibuat untuk menanamkan nilai-nilai sejarah khususnya pada anak-anak muda yang jiwanya lebih suka diajak berkhayal. Perlu diketahui oleh generasi millenial, bahwasanya para tokoh Cirebon sangat berperan dalam perjuangan da'wah Islam di Nusantara khususnya di Tanah Jawa. Tokoh seperti Sunan Gunung Jati adalah pemimpin Wali Songo, dan para tokoh Cirebon yang rata-rata adalah anak keturunanya, banyak berperan dalam perjuangan mengusir penjajah dan juga membangun pesantren yang terkenal di pulau Jawa.
Legenda Si Peci Merah by Al-Mahdawi
Al-Mahdawi
  • WpView
    Reads 288
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 14
"Legenda Si Peci Merah" adalah kisah fiktif yang disadur dari dongeng berbahasa Sunda yang berjudul Hikayat Kiyai Ahmad, yang sempat masyhur sekitar tahun 1970 dan dibawakan oleh KH. Muhammad Sholih , seorang ulama dari Bogor yang banyak berdakwah dengan media dongeng. "Ahmad" adalah seorang tokoh agama (Ajengan / Kiyai) yang sangat santun dan penuh kelembutan. Dia adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren yang selalu tampil sederhana dan pandai menyembunyikan jati diri meskipun memiliki banyak santri. Popularitas yang diraihnya adalah Anugerah termahal dari Tuhan setelah dia berhasil melewati beraneka macam ujian. Gelar Ajengan atau Kiyai yang dia sandang adalah penghormatan yang dicapai melalui perjuangan yang panjang. Ahmad bukan anak seorang Ustadz, Ajengan, Kiyai, atau tokoh lainnya. Dia terlahir dari keluarga yang kehidupannya sangat kekurangan dan jauh dari nilai-nilai agama. Sejak kecil dia hidup di lingkungan masyarakat yang moralnya sudah rusak parah. Ayahnya adalah seorang preman yang hobi berjudi, ngadu ayam, dan mabuk-mabukan. Ahmad kecil nyaris tidak mengenal pendidikan sama sekali. Kondisi perut yang selalu keroncongan menuntut dirinya berfikir bagaimana caranya bisa mendapatkan makanan. Namun, ketika Tuhan Berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini. Bermula dari perkenalannya dengan seorang santri, Ahmad kecil akhirnya tertarik untuk masuk pesantren. Berbekal hanya celana penuh tambalan yang dikenakan tanpa baju, dia berangkat ke pesantren. Disana dia mendapat hadiah baju dan sarung dari santri yang dikenalnya tersebut. Sepuluh tahun kemudian dia mendapat hadiah peci merah menyala dari gurunya yang menjadikannya terkenal si "Kopeah Beureum" (Peci Merah). Di pesantren, Ahmad menjadi bahan ejekan dan hinaan teman-temannya. Jiwanya begitu lapang hingga bisa menerima semua ujian tanpa menyisakan dendam. Sejak kecil dia terlatih bersabar dan nyaris tak terdengar adanya amarah yang keluar dari dirinya.