diyahfitriwulandari's Reading List (END)
3 stories
Sadewa✔ by Tenderlova
Tenderlova
  • WpView
    Reads 190,786
  • WpVote
    Votes 43,369
  • WpPart
    Parts 13
Part of "Antologi Bulan Desember" Di antara 12 bulan yang ada, Sadewa paling suka bulan desember. Bulan dimana pohon-pohon flamboyan favoritnya mulai bermekaran. Bulan dimana hujan mulai kerap mengguyur daratan. Bulan dimana ia bertemu dengan Aryo. Sadewa suka desember, tapi dia lebih suka Aryo. "Aryo sudah besar, Mas. Jadi Mas Dewa nggak usah ngurusin hidup Aryo lagi." anak itu berkata begitu. Meski dadanya sakit, Sadewa lebih suka Aryo dibanding bulan desember. ©tenderlova | Sadewa, 2020
RAVEN [ ✔ ] by AwanKaca
AwanKaca
  • WpView
    Reads 2,152,591
  • WpVote
    Votes 184,015
  • WpPart
    Parts 37
[ BELUM TAHAP REVISI ] • Kisah dirinya yang tidak diharapkan oleh keluarga kandung... " Jika aku tau kau akan besar menjadi berandalan bodoh tak berguna, seharusnya aku menggugurkanmu. " ' Gue tau... gue beban. Berusaha semaksimal mungkin juga bakal tetap kalah sama putra kesayangan lo! ' • Namun, dirinya yang dijadikan bos kecil dikeluarga De Lerion. Mafia terkejam di dunia bawah... " Om, tolongin Om, gue gak mau mati di sini Om. Ntar arwah gue gak tenang, nunggu diwawancarai Sarah Wijayanto dulu baru kelar. " " Mulai sekarang kau putra bungsuku. " " Jangan gue Om, Gue gada bakat apa-apa. Gue dunguk, cuman bisa jadi beban keluarga. Ntar lo yang susah. Gue sukak bolos, nakal, pecicilan, ngomong kasar tapi tak pakai narkoba. Jadi, gue gak cocok jadi anak pungut limited edition dengan ketampanan ilahi Om. " • Dirinya yang langsung berubah manja, ingin mengulang kisah menjadi sosok bayi besar... " Raven gak merajuk! Ayah aja tu, baru bilang ada bayi baru! " " Aku memiliki bayi dan hanya satu, bukankah itu kau? "
Run!! (Completed) by Avocalyps
Avocalyps
  • WpView
    Reads 205,511
  • WpVote
    Votes 1,835
  • WpPart
    Parts 4
[pindah ke fizzo] Setalah 14 tahun hidup damai di desa bersama neneknya, Gibran yang hobi menjelajah hutan tiba-tiba menemukan gerbang yang menjulai tinggi di tengah hutan dan di jaga ketat oleh beberapa orang berseragam hitam lengkap dengan senjata api menggantung di tangan masing masing. tapi siapa sangka di balik gerbang tinggi itu hidup satu keluarga menyebalkan yang mengaku-aku jika mereka adalah keluarganya, dengan paksaan. Gibran tentu tidak mau ikut, hidup bebasnya terancam punah. dan satu-satunya cara adalah kabur dari tempat itu terus menerus. sayangnya Gibran terlalu naif berfikir bahwa ancaman itu hanyalah main-main saja.