real_yerinnn
"Sang Raja memberinya pedang untuk menjaga kehormatan kerajaan. Ia tidak pernah tahu, kehormatan itulah yang perlahan menyembelih putrinya sendiri."
.
.
Di bawah langit Kerajaan Valois, Putri Alveria bukan sekadar calon pewaris takhta, ia adalah Sang Mahakarya. Sejak hari kelahirannya, ia dididik, dibentuk, dan dipoles oleh hukum istana yang kejam untuk menjadi representasi hidup dari kesempurnaan absolut. Ia dilarang menangis, dilarang bimbang, dan yang paling utama, dilarang memiliki celah. Bagi kerajaan, satu coretan moral atau satu kesalahan kecil pada sang putri akan meruntuhkan legitimasi dinasti mereka di mata dunia.
Namun, di balik gaun sutra yang kaku dan senyum yang diukur dengan presisi matematis, Alveria hanyalah seorang manusia yang perlahan hancur di bawah tekanan untuk menjadi tak bernoda.
.
.
.
Cerita ini menjadi sebuah kritik tajam terhadap ekspektasi yang tidak manusiawi dan bagaimana ambisi orang tua bisa menghancurkan mental seorang anak. Jalan yang dipilih Alveria bukanlah bentuk kekalahan, melainkan sebuah aksi protes paling radikal dan tragis dari seorang "Mahakarya" yang menolak untuk terus dipajang dan dieksploitasi.
Buat yang penasaran dengan jalan ceritanya, cuss baca ajaa~