salnaha
- Leituras 17
- Votos 5
- Capítulos 3
Dibalik kelas yang penuh akan canda tawa, pasti ada siswa yang unik dengan berbagai keadaan.
Awel bukan siswi teladan yang selalu datang tepat waktu. Ia datang dengan mata setengah terpejam sisa begadang tadi malam dalam mood yang nyaris runtuh. Namun pagi itu, langkahnya terhenti oleh tatapan tajam, ejekan murahan dan rencana kotor yang ia dengar.
rani dan gengnya tak pernah benar-benar berubah drama dan gangguan selalu jadi hal yang mereka suka.
Evelyn, dengan bandana merah dan wajah paling santai, memilih membalas-bukan dengan teriakan maupun kekerasan melainkan susu yang melayang tepat sasaran.
Dan Syifa, yang lebih banyak diam daripada bicara, berdiri sebagai pengamat situasi, mata elang yang tampak tak peduli justru menjadi yang paling mengawasi.
Di antara bangku berantakan, mie ayam dikantin, perdebatan soal siomay, tawa kecil, dan mimpi mengikuti olimpiade ke Bandung, tiga siswi ini belajar satu hal penting,
yaitu:
dunia boleh ribut, tapi selama mereka bersama, segalanya bisa dihadapi.
Namun cerita ini bukan hanya tentang hari-hari remaja yang penuh candaan normal.
Melainkan sebuah cerita perjalanan panjang-namun singkat.
Perjuangan singkat ketiga sekawan untuk mengejar impian-saling merangkul tanpa kenal adanya perasaan membenci.
Melewati berbagai rintangan, hanya dengan berbekal senyuman dan harapan yang terlalu samar.