ernawatun
Hai.. aku Chloe..
Aku tumbuh besar di New York, kota di mana segala sesuatu bergerak secepat kilat, di mana lampu-lampu menyala terang seolah matahari tak pernah benar-benar terbenam, dan di mana orang-orang berjalan dengan langkah terburu-buru seolah ada hal penting yang tertinggal di depan sana. Di tengah gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk jalanan Broadway, aku belajar menjadi seorang perancang seni, mencari inspirasi di setiap sudut kota yang modern dan bising itu. Tapi entah mengapa, seringkali aku merasa ada bagian dari diriku yang kosong. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa kutemukan di balik kaca jendela gedung tinggi atau di antara keramaian Times Square.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk datang ke Yogyakarta, kota kecil tenang yang sering sekali diceritakan ibuku sejak aku masih kecil. Aku datang hanya dengan bermodal rasa penasaran, tas pakaian, dan buku sketsa yang kuisi harapan. Aku pikir aku hanya akan pergi berlibur, melihat-lihat kebudayaan, lalu pulang kembali ke rutinitasku semula.
Ternyata aku salah besar.
Di sini, di antara aroma lilin yang hangat, kain-kain indah, dan bangunan tua yang menyimpan seribu cerita, aku tidak hanya menemukan seni yang luar biasa. Aku juga bertemu Enggar seorang pemuda yang caranya berbicara lembut, pandangannya tenang, dan hatinya seindah warisan budaya yang dijaganya.
Ini adalah kisahku. Kisah tentang bagaimana aku yang terbiasa dengan kecepatan New York, akhirnya belajar bahwa hal-hal terindah dalam hidup justru butuh waktu, kesabaran, dan rasa, sama persis seperti selembar kain batik yang dibuat dengan hati.