fluoresens
- Membaca 1,199
- Vote 103
- Bab 4
Swara meninggalkan rumah yang hancur demi mencari napas baru di Jogja. Namun, rasa bersalah mengekor karena adik kesayangannya turut ia tinggalkan. Dan ketika Swara pikir keping dirinya perlahan menyatu, lelaki yang ia percaya tiba-tiba pergi. Retak itu melebar: jika keluarga dan cinta bisa runtuh, lalu apa yang bisa ia genggam?
Gema kehilangan orangtua ketika ia masih terlalu kecil untuk menyimpan kenangan, tetapi ia tumbuh dalam pelukan eyang yang hangat dan penuh kasih sayang. Kendati merasa tidak pernah kekurangan cinta, ada ruang hampa yang sulit ia beri nama--bukan karena ia tak dicintai, melainkan adanya bentuk kasih yang tak sempat ia rasakan. Di lain sisi, usia eyang yang kian senja, menghadirkan ancaman terhadap keutuhan.
Gema dan Swara bersinggungan ketika setiap bunga yang tumbuh akan layu dan setiap momen yang tercipta akan berlalu sebagaimana mestinya. Lantas, mengapa kehilangan selalu terasa seperti akhir dari segalanya?
Lebih dari perihal kehilangan, mungkin ini tentang bertahan dengan rumah yang berbeda dari yang kita bayangkan, merawat rumah yang pernah hilang, dan merayakan yang tersisa maupun yang tinggal.
© 2026 all rights reserved by fluoresens.