jiyu_aja
- Reads 18,233
- Votes 1,698
- Parts 54
Perasaan Tidak Masuk Penilaian
Banyak mahasiswa percaya bahwa setiap dosen memiliki kelemahan.
Ada yang mudah luluh jika mahasiswanya rajin. Ada yang mudah memberi nilai bagus jika tugasnya rapi. Ada pula yang terkenal santai dan tidak terlalu peduli pada aturan.
Namun, semua anggapan itu berhenti pada satu nama.
Jesica Nathalia Prameswari, S.H., M.H.
Dosen Fakultas Hukum yang dijuluki "Ratu Killer."
Beliau tidak pernah mentoleransi keterlambatan. Tidak pernah menghapus absensi. Tidak pernah menaikkan nilai hanya karena mahasiswa memohon. Baginya, aturan tetaplah aturan. Siapa pun yang melanggar harus menerima konsekuensinya.
Mahasiswa takut berada di kelasnya.
Kecuali satu orang.
Jean Alena Pratama.
Mahasiswi yang namanya hampir selalu muncul di daftar keterlambatan. Datang dengan napas terengah-engah sambil membawa segelas es kopi, lupa mengerjakan tugas, terlalu banyak bicara, dan entah bagaimana selalu punya alasan setiap kali melanggar peraturan.
"Maaf, Bu. Jalanan macet."
"Kemarin juga macet."
"Soalnya memang macet setiap hari, Bu."
Seisi kelas menahan tawa.
Bu Jesica hanya menatap datar.
"Keluar."
Sejak hari itu, Jean dan Bu Jesica seperti dua kutub yang tak pernah sejalan.
Setiap pertemuan selalu diisi perdebatan. Setiap kelas selalu menghadirkan alasan baru bagi Jean untuk mengeluh tentang dosen paling galak di fakultas.
Baginya, Bu Jesica adalah perempuan yang terlalu kaku.
Baginya, Jean adalah mahasiswi yang terlalu sulit diatur.
Tidak ada yang menyangka, kebencian kecil itu perlahan berubah menjadi perhatian yang tak diundang.
Dan Jean baru menyadarinya ketika tatapannya mulai mencari sosok Bu Jesica di setiap koridor kampus.
Padahal ia tahu...
di kampus ini ada banyak mata kuliah yang bisa dipelajari.
Tetapi perasaan...
tidak pernah masuk penilaian.