Vinzzethereal2
- Reads 195
- Votes 17
- Parts 13
"Aku tidak pernah keberatan menjadi orang pertama yang mendengar tangisnya, atau jadi tempat dia pulang saat dunianya sedang berantakan. Bagiku, Zefanya Evangelista bukan sekadar gadis pindahan yang hadir di masa sekolahku. Dia berharga, bahkan sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Dan untuk seseorang yang aku anggap keluarga, kebahagiaannya adalah harga mati-meski itu bukan berasal dariku.
Aku menjadi saksi saat Alexander Andreas, sahabatku sendiri, mematahkan hatinya. Aku juga yang menjembatani jalannya menuju Aditya Candra, hanya karena aku ingin dia kembali tersenyum. Aku selalu memilih untuk diam di garis belakang, menjaga Zefanya dengan cara yang paling aman: tanpa status.
Namun, diamku ternyata menjadi bumerang. Saat sebuah rahasia terbongkar dari mulut Alex, aku dipaksa menghadapi kenyataan bahwa Zefanya selama ini menungguku melangkah.
Aku tidak bergeming. Bukan karena tidak punya rasa, tapi karena aku tahu diri. Aku tidak ingin melukai perasaan sahabat yang pernah mencintainya, dan aku merasa Zefanya berhak mendapatkan seseorang yang lebih 'pantas' dariku.
Malam tahun baru itu, aku memberanikan diri untuk bertemu dia secara langsung untuk berbicara dengan nya aku berdiri di depan rumahnya dengan semua kata yang sudah kususun rapi di kepala. Tapi ternyata, dunia nggak nunggu aku siap. sekilas Dari kejauhan, aku melihat Zefanya perlahan menjauh, menghindar, dan aku juga sekilas melihat Adit Birendra bersama dia.
Malam itu, di bawah riuhnya kembang api, aku baru sadar satu hal; menjaga perasaan semua orang ternyata harus dibayar dengan kehilangan dia selamanya. Aku yang menjaga rumah itu, tapi orang lain yang akhirnya menempati."
Kisah ini Terinspirasi dari kisah nyata yang aku rombak semedikian rupa jika ada yang tidak setuju dengan cerita ini bisa memberitahu saya, saya siap menghapus cerita ini.