MATALILA
- Reads 28,493
- Votes 1,617
- Parts 18
"Where's noona?!" teriak Alphen dengan kemarahan yang sudah tak bisa ia bendung lagi. Tangannya menghantam meja makan, membuat *cling!* suara piring-piring porselen pecah berhamburan ke lantai. Beberapa pecahan terpantul ke arah kursi dan karpet, menambah kekacauan di ruang makan yang awalnya tertata rapi.
Beberapa pelayan menunduk dalam diam, tak ada satu pun yang berani mendekat.
Di saat yang sama, Cassie membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Nafasnya memburu, rambutnya berantakan karena angin malam, dan wajahnya penuh panik.
"Alphen!" serunya sambil berlari kecil ke arah ruang makan. Begitu melihat kekacauan di sekeliling meja, langkah Cassie terhenti. Matanya membulat saat melihat pecahan piring di lantai, dan di tengahnya, Alphen berdiri membelakanginya, tubuhnya tegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"I'm really, really sorry, Alphen... I can't keep my promise." ucap Cassie pelan, suaranya hampir bergetar. Ia tahu... dia benar-benar terlambat.
Alphen tak langsung menoleh. Ia hanya berdiri diam, menatap kosong ke arah meja makan yang kini porak-poranda.
Cassie perlahan melangkah masuk, melihat sekilas piring-piring yang pecah, lalu menunduk dalam-dalam. "Ini salahku..." bisiknya penuh penyesalan. "Aku... aku melupakanmu. Maafkan aku..."
Alphen akhirnya berbalik, menatap Cassie dengan mata yang tampak memerah. Tapi bukan karena marah melainkan karena menahan kekecewaan yang begitu dalam. Suaranya terdengar pelan namun tajam. "Yeah. This is your fault." katanya sambil menunjuk pecahan di lantai. "So what are you gonna do now?"