imagineanonymous0
Asha Mahendra tidak pernah percaya pada kebetulan.
Di usianya yang masih muda, ia sudah terbiasa hidup di tengah tuntutan keluarga, bisnis, dan ekspektasi orang-orang terhadap dirinya. Setelah lulus dari universitas ternama dan menempuh karier sebagai advokat, Asha memilih membangun usahanya sendiri-sebuah restoran bisnis kuliner yang perlahan berkembang menjadi nama besar.
Dingin, ambisius, dan terlalu sibuk mengejar kestabilan hidup, Asha tidak pernah benar-benar memikirkan cinta.
Sampai ia bertemu lagi dengan Saira Nadine.
Tanpa Asha sadari, perempuan itu bukan orang asing sepenuhnya.
Bertahun-tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi yang sering membantu menjaga restoran milik orang tuanya, Asha beberapa kali melihat seorang perempuan datang sebagai pelanggan tetap. Perempuan dengan pembawaan tenang itu selalu duduk di sudut yang sama, memesan menu yang hampir sama, lalu pergi tanpa banyak bicara.
Asha tidak pernah mengenalnya.
Tapi entah kenapa, ia selalu mengingat wajah itu.
Hingga beberapa waktu kemudian, Saira Nadine muncul kembali-kali ini sebagai pelamar kerja di restoran milik Asha.
Saira sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya di salah satu Universitas tenama. Ia dikenal cukup religius cerdas, dan berasal dari keluarga yang sangat menjaga nilai agama. Namun di balik sikap lembutnya, Saira adalah perempuan yang tegas, mandiri, dan sulit ditebak.
Awalnya, hubungan mereka tidak lebih dari atasan dan bawahan.
Sampai perhatian-perhatian kecil mulai terasa terlalu berarti.
Di tengah pengkhianatan bisnis, persaingan usaha, rasa cemburu, hubungan yang perlahan berubah toxic, dan keluarga yang mulai curiga terhadap kedekatan mereka, Asha dan Saira dipaksa menghadapi satu kenyataan yang tidak pernah mereka rencanakan
bahwa perasaan itu nyata.
Namun ada cinta yang tidak cukup kuat untuk melawan rasa takut.
Ada norma, keyakinan, dan masa depan yang membuat mereka sadar bahwa saling memiliki tidak selalu berarti harus bersama selamanya.