alhfakn14
Mereka pernah bersama dua tahun-dipenuhi tawa, rindu, dan mimpi sederhana. Tapi salah paham dan luka yang tak pernah selesai membuat mereka berpisah, bukan karena tak cinta, tapi karena belum cukup dewasa untuk mempertahankannya. Setelah itu mereka jadi asing; saling menjauh, seolah dua tahun itu cuma babak kecil yang harus dilupakan.
Keduanya kemudian mencoba membuka hati untuk orang baru. Mereka mencintai dengan tulus, berharap bisa sembuh dan melupakan masa lalu. Tapi hubungan-hubungan itu justru berakhir dengan luka: diremehkan, disakiti, ditinggalkan. Mereka sama-sama patah oleh orang yang datang setelahnya.
Anehnya, di saat mereka sama-sama runtuh namun lebih kuat, semesta mempertemukan mereka lagi. Pertemuan itu canggung tapi hangat-ada rasa lama yang kembali muncul pelan. Mereka berbicara lagi, saling cerita tentang luka, saling tertawa karena ternyata nasib mereka serupa.
Tanpa direncanakan, mereka kembali dekat. Pelan, hati-hati, dan jujur. Kini keduanya sudah single, sudah berdiri sendiri, namun lebih realistis dan takut akan patah yang kedua kali. Ada rasa, tapi belum siap untuk komitmen. Belum siap kembali memaksakan status seperti dulu.
Akhirnya mereka memilih jalan yang paling aman: HTS. Hubungan tanpa status, tanpa janji, tanpa tekanan. Mereka saling mencari, saling kembali, saling nyaman... tapi tidak saling mengikat. Mereka hanya ingin kedekatan yang jujur, tanpa harus menjadi pacar atau berjanji tentang masa depan.
Untuk sekarang, mereka tidak butuh label. Yang mereka butuhkan hanyalah kebersamaan yang tidak menyakiti, rasa nyaman yang tidak memaksa, dan seseorang yang dulu pernah menjadi rumah- yang kini kembali hadir, meski tanpa nama.