imfayaa__
Kisah cinta Aluna dan Kieran telah lama kandas, terkubur jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Kanada. Namun kehadiran Dante, adik kandung Kieran yang baru berusia 18 tahun, justru menghadirkan ancaman yang jauh lebih berbahaya.
Di dalam kamar yang mendadak terasa sempit dan memanas, napas Aluna kian memburu. Gerakan Dante yang makin dalam, aroma cologne bercampur keringat yang tajam, serta desakan tubuh pria itu menghancurkan seluruh pertahanan Aluna hingga tak tersisa.
"Sudah... aku pusing, Dante..." bisik Aluna dengan suara bergetar. Kepalanya mendongak pasrah saat sensasi pekat dan rasa bersalah menghantamnya secara bersamaan.
Bukannya melambat, Dante justru makin menekan pergerakannya. Jemarinya mencengkeram rahang Aluna dengan lembut tetapi mengikat, memaksa wanita itu menatap matanya yang makin menggelap oleh gairah.
"Kakak tenang aja. Just calm down, okay? Nggak usah mikirin apa-apa lagi. Biar aku yang handle," bisik Dante. Suaranya berat dan serak tepat di depan bibir Aluna, diselingi kecupan-kecupan intens di leher yang membuat Aluna makin kehilangan kendali.
Dante mengunci tatapan Aluna, tidak memberikan celah sedikit pun bagi wanita itu untuk melarikan diri dari sensasi luar biasa yang tercipta di antara mereka.
"Jangan mulai mikir yang aneh-aneh. Karena kalau Kakak mulai mikir, aku tahu orang pertama yang bakal Kakak lepas pasti aku," gumamnya rendah dengan ritme yang makin memburu tanpa ampun. "And I don't want that, Kak. Jadi sekarang, cukup pasrah sama aku. Biar aku yang urus sisanya, one thing at a time."
Napas mereka beradu liar. Dante menyunggingkan senyum tipis, sebuah gestur penuh kendali saat merasakan tubuh Aluna menyerah sepenuhnya di bawah kekuasaannya.
"Kakak di sini aja sama aku. Nggak perlu pusing. Let me take care of you."
Terjebak dalam kungkungan tubuh Dante yang semakin intens, Aluna sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.