Aileeshaya
Malam itu, langit terbakar oleh Gerhana Bulan Merah. Warna saffron pekat yang ironis. Aku berdiri di tepi jembatan, lelah dan sebatang kara. Siap untuk mengakhiri segalanya.
Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari hidungku. Pekat, sama seperti warna langit malam itu. Aku menyentuhnya dengan jemariku yang gemetar, lalu aku tertawa. Sebuah tawa kering yang pahit. Bahkan di saat aku siap untuk menyerah pun, takdir masih harus mengingatkanku pada penyakit yang menggerogoti hidupku.
Tepat saat aku menemukan satu alasan kecil untuk tetap bertahan dan berjuang, lagi-lagi takdir mempermainkanku. Aku jatuh ke bawah jembatan yang dingin. Aku tenggelam, dan hal terakhir yang kulihat adalah bulan itu. Warna merahnya membakar permukaan air. Aku menangis. Hidupku pasti berakhir malam ini. Lalu kenapa, kenapa ini terjadi saat aku baru saja memutuskan bahwa "Aku Masih Ingin Hidup."