phi_dew
Bagi Lingling, hidup adalah tentang bertahan. Di antara aroma peluh, tumpukan buku beasiswa, dan gemeretak botol plastik bekas yang dipungutnya sepulang sekolah, tidak ada ruang untuk bermimpi terutama mimpi tentang cinta. Dunianya terlalu kusam, terlalu bising oleh tuntutan perut dan raga neneknya yang kian menua.
Sementara itu, Orm adalah perwujudan dari segala hal yang tidak akan pernah bisa Lingling capai. Cantik, berkilau, dan berjalan dengan keanggunan yang dilingkupi kemewahan, Orm adalah primadona sekolah yang namanya selalu dielukan.
Mereka adalah dua garis paralel. Berada di lingkungan yang sama, namun terpisahkan oleh jurang status sosial yang teramat curam. Lingling tahu diri; menatap mata Orm adalah sebuah keberanian yang tidak tahu malu. Namun, semesta rupanya punya cara sendiri untuk menertawakan batas yang dibuat manusia. Lewat sebuah insiden di pinggir jalan yang berdebu, takdir mulai merajut benang-benang tak kasat mata di antara mereka.
Ini adalah kisah tentang sepasang jiwa yang telah diikat oleh semesta, jauh sebelum mereka saling menyadari arti dari tatapan pertama.