PrettycupcakeSs
Semua orang bilang menikah muda itu nekat.
Apalagi kalau hidup mereka bahkan belum benar-benar stabil.
Raka Mahendra tahu itu.
Mahasiswa tingkat akhir teknik sipil dengan hidup yang nyaris selalu dipenuhi revisi, begadang, dan angka tabungan yang memprihatinkan.
Sedangkan Aren Pradipta-
lelaki cerewet yang tumbuh tanpa rumah untuk pulang.
Sejak kecil Aren terbiasa hidup sendiri setelah kehilangan kedua orang tuanya.
Ia terbiasa terlihat kuat, terbiasa bilang
"aku gapapa," bahkan saat sebenarnya lelah menghadapi semuanya sendirian.
Mungkin itu alasan kenapa, ketika Raka mengajaknya menikah sederhana di usia yang terlalu muda, Aren langsung mengiyakan.
Bukan karena hidup mereka mudah.
Justru karena untuk pertama kalinya, Aren merasa tidak sendirian lagi.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada restu hangat dari semua orang.
Hanya akad sederhana, kontrakan kecil dengan atap bocor saat hujan, uang bulanan yang sering mepet, dan dua orang yang sama-sama masih belajar menjadi dewasa.
Raka sibuk mengejar kelulusan.
Aren sibuk menenangkan rumah kecil mereka agar tetap terasa hangat.
Kadang mereka bertengkar karena hal sepele.
Kadang menangis diam-diam karena hidup terasa terlalu berat.
Tapi anehnya- semua kesulitan itu terasa lebih ringan saat dijalani berdua.
Karena bagi Aren, rumah bukan tentang tempat.
Melainkan seseorang yang tetap menggenggam tangannya meski keadaan sedang berantakan.
Dan bagi Raka,
Aren adalah alasan kenapa kata "pulang" akhirnya terasa nyata.