solthornforever
- Reads 935
- Votes 145
- Parts 5
"Aku mencintaimu, Taufan."
Kata-kata itu keluar dengan tegas dari bibir Halilintar, sosok CEO tampan dan berkuasa yang telah ko lama menyembunyikan perasaannya terhadap salah satu pekerjanya. Matanya yang biasanya tajam saat memimpin perusahaan kini penuh dengan harapan yang dalam, menatap Taufan yang berdiri kaku di depannya
"Maaf-"
Hanya dua kata saja yang cukup menusuk seperti pisau ke dalam hati Halilintar. Tanpa perlu melanjutkan kalimat, ia sudah paham apa yang akan dikatakan. Rasa sakit karena penolakan segera berubah menjadi amarah yang membara - perasaan tidak terima yang membuat rasanya ingin menguasai segalanya agar Taufan tidak bisa pergi darinya
Tanpa pikir panjang, pada malam harinya Halilintar mengambil tindakan ekstrem. Ia menculik Taufan dan membawanya ke sebuah vila terpencil di kaki pegunungan - tempat yang jauh dari keramaian kota, jarang sekali ditemui orang lain dan hampir tidak mungkin untuk ditemukan
Di sana, Halilintar mencoba memaksa Taufan untuk mencintainya kembali. Kadang kala nafsunya yang tidak terkendali membuatnya memperlakukan Taufan dengan cara yang tidak pantas - memperkosanya
Setiap kali Taufan berusaha melawan atau meminta untuk dibebaskan, hal itu hanya membuat amarah Halilintar semakin memuncak dan memperburuk situasi yang sudah menyakitkan ini
Suatu malam, Taufan duduk menyendiri di sudut kamar, matanya merah dan bengkak karena menangis. Tangannya menggenggam seprai kasar di bawahnya sambil mengucapkan kalimat yang sudah sering keluar dari mulutnya:
"Aku ingin pulang..." Suaranya lemah dan penuh kesedihan, seperti nyanyian orang yang hilang di tempat yang tidak dikenal