PnClown
- Reads 1,421
- Votes 156
- Parts 10
"Buka mulutmu, Hinata..."
bisiknya di sela-sela lumatan, suaranya parau dan bergetar, terdengar seperti sebuah perintah sekaligus permohonan yang putus asa.
Napas kami beradu, memburu di antara suara deru hujan yang semakin menggila di luar gubuk.
Aku membuka sedikit belahan bibirku, dan Kiba tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia langsung melesakkan lidahnya, menginvasi rongga mulutku dengan begitu dalam dan posesif.
Aku terbelalak, jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar.
Tapi anehnya... aku sama sekali tidak menolak.