Takdirhati
Lengan kekar itu melipat sajadah yang baru saja ia gunakan untuk menunaikan salat Subuh. Setelahnya, ia tak kembali merebahkan tubuh. Langkahnya justru mengarah ke balkon apartemen tinggi yang sunyi, tempat angin dini hari menyentuh kulit dan langit masih menyisakan cahaya pucat bulan yang hampir tenggelam.
Ia berdiri di sana, menatap langit dengan sorot mata yang dalam mata indah khas Turki yang ia warisi dari sang ibu, berpadu dengan perawakan tegas milik ayahnya.
Darah Indonesia dan Turki mengalir bersamaan di tubuhnya, membentuk sosok yang tampak tenang di luar, namun menyimpan riuh di dalam.
Pria itu menetap di Kuwait, negeri pasir dan minyak, tempat ia menjadi salah satu pendiri perusahaan besar yang namanya disegani. Kekuasaan, harta, dan pengaruh bukan lagi sesuatu yang ia kejar semua itu datang bersamaan dengan kesendirian yang tak pernah benar-benar pergi.
Minggu depan, jadwal kepulangannya ke Indonesia telah menanti. Dalam setahun, ia pulang dua kali ke tanah kelahiran ayahnya, dan tiga kali ke Turki tanah ibunya.
Meski tak pernah mengucap secara gamblang kecintaannya pada Turki, Sefa Akram Sahim, sang ibu, tahu betul putranya menyimpan rindu paling dalam pada negeri itu.
Orang tuanya tinggal terpisah. Ayahnya di Indonesia, bersama istri keduanya. Ibunya di Turki, sendirian.
Sefa adalah istri pertama, perempuan yang memilih menjauh, bukan karena benci, melainkan karena lelah menahan perih. Statusnya masih istri, namun hatinya menolak untuk terus terluka oleh kenyataan yang sama.
Ia memilih kesunyian, ketimbang harus tersenyum di hadapan lelaki yang membagi cintanya.
Dari istri kedua ayahnya, lahirlah seorang putra lain lebih muda tiga tahun darinya. Hubungan darah yang sah, namun jarak batin yang tak pernah benar-benar terjembatani.
Pria berdarah Turki itu kini berusia tiga puluh tiga tahun. Namanya Aslan Zayed Al Hakeem. Putra dari Sefa Akram Sahim.