RiskiAriyanti9
"Cari siapa, Nak?" tanya pria asing itu dengan nada sopan yang justru terdengar mengerikan.
"Ini... rumah saya," jawab Jisung saat itu, suaranya tercekat di tenggorokan.
Pria itu mengernyit, lalu mengeluarkan selembar dokumen dari dalam tas kerjanya. "Ah, kamu Jisung? Ibumu sudah menandatangani akta penjualan rumah ini minggu lalu. Semuanya sudah beres. Hak kepemilikan sah berpindah ke tangan saya."
Dunia Jisung berhenti berputar. Ibunya. Menjual rumah tempat ia dibesarkan. Tanpa sepatah kata. Tanpa diskusi. Tanpa sisa bagian untuk dirinya.
Ketika Jisung menelepon sang ibu dengan tangan gemetar, jawaban yang ia terima dingin dan tajam seperti pecahan kaca. "Ibu butuh uang untuk biaya sekolah adik tirimu di luar kota, Jisung. Ayahmu juga tidak mau ikut campur karena dia sudah punya keluarga baru di distrik utara. Urus saja hidupmu sendiri. Kamu sudah hampir dewasa, jangan terus-terusan menjadi beban."
Beban.
Kata itu berulang kali bergeming di kepalanya, menghantam kesadaran Jisung bahwa di mata kedua orang tua yang telah melahirkannya, ia bukanlah anak yang harus dilindungi. Ia hanyalah sisa-sisa masa lalu yang mengganggu sebuah pengingat memalukan atas pernikahan mereka yang gagal, yang sengaja dibuang agar lembaran hidup baru mereka tidak ternoda.
=====
"Kau tidak berencana tidur berdiri di situ sampai pagi, kan, Anak Baru?" suara Haechan terdengar santai
"Dinding rusun ini tipis, Jisung," bisik Haechan, suaranya tiba-tiba melembut, kontras dengan nada bicara sinisnya tadi. "Aku bisa dengar kalau kau menangis di dalam sana. Dan omong-omong... berdiri di balik pintu tidak akan membuat mereka kembali mencarimu."
Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Jisung. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh amarah dan kepedihan yang membuncah.