RikaAprianti
Sanum terbiasa berjalan sendirian. Bukan karena tak ada yang ingin mendekat, melainkan karena sejak awal hidup mengajarkannya bahwa sendiri adalah cara paling aman untuk bertahan. Di keluarganya, perasaan tidak selalu punya ruang, dan suara tidak selalu perlu disampaikan. Maka Sanum tumbuh dalam diam-belajar memahami tanpa banyak bicara, menguat tanpa pernah benar-benar ditanya apa yang ia rasakan.
Sejak kecil, Sanum percaya bahwa bergantung pada orang lain adalah risiko. Terlalu berharap berarti siap kecewa. Terlalu percaya berarti membuka pintu untuk ditinggalkan. Keyakinan itu ia simpan rapat, menjadikannya seseorang yang terlihat kuat, mandiri, dan selalu tampak baik-baik saja. Ia mengatur hidupnya dengan rapi, menyelesaikan segalanya sendiri, dan meyakinkan diri bahwa ia sudah "cukup", meski pada waktu-waktu tertentu, rasa kosong tetap datang tanpa aba-aba.
Sanum tidak terbiasa meminta. Tidak terbiasa mengeluh. Apalagi berharap ada seseorang yang benar-benar tinggal.
Sampai suatu hari, seseorang datang dengan perhatian yang terasa berlebihan-hadir lewat hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Pertanyaan sederhana, kepedulian yang konsisten, dan tawa yang muncul di saat-saat tak terduga. Kehadirannya mengacaukan ritme hidup Sanum yang selama ini tertata rapi, mengusik jarak aman yang sengaja ia bangun dari siapa pun.