nasyandra1109
AFTER THE BELL
Di sekolah, dia hanyalah seorang siswi.
Dan dia hanyalah staf TU yang setiap hari mengurus berkas, jadwal, dan administrasinya.
Tidak lebih.
Setidaknya, begitulah seharusnya.
Setiap pagi mereka bertemu di lorong yang sama.
Setiap jam sekolah mereka saling menyapa seperlunya.
Dan setiap bel pulang berbunyi, mereka kembali menjadi dua orang yang seharusnya tidak memiliki perasaan apa-apa.
Namun, semakin sering mereka bertemu, semakin sulit bagi sang siswi membedakan antara rasa kagum, rasa nyaman, dan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ada perasaan yang tumbuh diam-diam.
Ada batas yang seharusnya tidak dilewati.
Dan ada satu pertanyaan yang terus menghantui pikirannya...
Jika sekolah berakhir ketika bel berbunyi, apakah perasaan juga harus berakhir setelahnya?
After the Bell.
When the school day ends, the real story begins.