canopusalfacarinae
Ada sebuah negri yang begitu makmur, rakyatnya bahagia, tanahnya subur, dan bangunan-bangunannya indah juga megah berdiri kokoh di sepanjang jalanan kota. Negri ini berada di bawah kekuasaan sebuah kekaisaran agung bernama, Kekaisaran Bhaskar.
Jauh dari tawa dan gendang yang ditabuh penyanyi jalanan, di balik tembok raksasa dan megah istana, di sanalah sang matahari agung Kekaisaran Bhaskar duduk di atas singgasananya. Seluruh rakyat kekaisaran menghomartinya, musuh-musuhnya begitu takut akan keberadaannya, dan haremnya seindah bunga-bunga di taman kekaisaran.
Yang Mulia agung ini bernama, Aslanel Leo Ishaan.
Ia lah yang mengangkat pedangnya sejak merusia 12 tahun dan pergi berperang kemudian kembali dengan banyak kemenangan, memenangkan hati seluruh kerajaan, sebelum kemudian menenggelamkan kepercayaan mereka dalam ketakutan.
Aslanel Leo Ishaan telah membunuh ayahnya sendiri, memusnahkan seluruh haremnya, memenggal seluruh abdi dalem dan kemudian menggantung kepala mereka di tembok istana hingga burung-burung datang mematuk kepala-kepala tersebut.
Ketika seluruh negri mendongak untuk memandangnya, ketika semilir angin bertiup di malam hari, bersama bulan purnama yang tergantung di langit, sebuah selendang telah terbang dan menyapu wajahnya.
Pedang yang selalu ada di pinggangnya telah siap ia ayunkan ketika sebuah suara merdu dengan sedikit tawa terdengar dari atas, "Oh? Rupanya ada seorang pria tampan di sini."
Gemerincing gelang kaki terdengar mengikuti pergelangan kaki yang berayun, "Tuanku, bagaimana satu nyanyian untuk selendang saya yang telah menyentuh anda tanpa izin?"
Itu adalah hari pertama ia bertemu dengan sosoknya, tidak akan ada yang tahu bahwa suatu hari, kaisar agung dan beringas ini akan menangis sembari menyebut nama pemuda yang duduk pada tembok bangunan di pinggiran kota.
"Sengkaya Aarav." Nama inilah yang akan menjadi awal mula sebuah kisah penuh pengabdian dan pengorbanan.