bintarobastard
- Reads 639
- Votes 62
- Parts 12
Senayan, Mei 1998.
Di bawah bayang-bayang kubah hijau Gedung DPR/MPR yang ikonik, sejarah sedang ditulis ulang. Ribuan mahasiswa menduduki atap gedung, menciptakan lautan jaket warna-warni yang menuntut reformasi. Di antara barikade pertahanan, Achilles Sumampouw, seorang Letnan Dua muda, berdiri tegang dengan laras senjata terarah ke kerumunan. Ia adalah benteng terakhir rezim yang sedang sekarat.
Di seberang laras senjatanya, berdiri Kilau Subuh Smaradana, mahasiswa UGM berdarah Jogja yang memimpin orasi di tangga utama. Matanya nyalang, suaranya parau meneriakkan kebebasan.
Malam itu, saat situasi memanas dan perintah "bersihkan area" bergaung samar, Achilles membuat keputusan yang mengkhianati seragamnya. Alih-alih menyeret Kilau ke truk tahanan, ia menarik pemuda itu bersembunyi di pos jaga yang gelap di sudut kompleks parlemen. Di titik nol demokrasi itulah, "tendon" nasib mereka tersambung: Achilles sang prajurit menjadi pelindung, dan Kilau sang demonstran menjadi alasan.
Sanggupkah cinta yang lahir di tengah revolusi bertahan, ketika satu jiwa telah tersandera oleh politik, dan jiwa lainnya tersesat mencari penebusan? Di gerbang Senayan, tendon yang menghubungkan mereka menegang hingga titik nadir, menunggu saatnya putus.