izyza_
- Reads 768
- Votes 61
- Parts 44
sejauh apa pun ia melangkah, selalu ada satu tempat yang diam-diam menunggunya. Sebuah rumah-bukan sekadar bangunan, tetapi ruang tempat namanya disebut tanpa syarat. Tempat ia diterima tanpa harus menjelaskan ke mana saja ia pergi dan mengapa ia harus kembali.
Ia sering mencoba meyakinkan dirinya bahwa pulang hanyalah pilihan. Bahwa dunia masih terlalu luas untuk disederhanakan menjadi satu alamat. Tetapi waktu mengajarinya hal lain: bahwa lelah tidak selalu ingin disembuhkan oleh petualangan, melainkan oleh ketenangan.
Di tengah perjalanan panjangnya, ia mulai memahami bahwa kebebasan bukan berarti tidak terikat, melainkan tahu ke mana harus kembali. Bahwa sejauh apa pun seseorang mencari, selalu ada titik akhir yang tidak berubah-tempat ia bisa melepaskan beban dan menjadi dirinya sendiri tanpa peran apa pun.
Rumah itu tidak pernah menahannya. Ia membiarkannya pergi, berulang kali, tanpa menuntut janji. Dan justru karena itulah, itu selalu menang. Karena tidak semua yang ditunggu harus dikejar.
Akhirnya, ia kembali. Bukan karena kehabisan jalan, tetapi karena menemukan makna. Ia pulang dengan cerita, dengan luka yang sudah mengering, dengan pandangan yang lebih tenang. Dunia telah memberinya banyak hal, tetapi rumah memberinya satu hal yang paling ia butuhkan: rasa cukup.
WARNING🚫
💢 jika ada kesamaan tempat, latar, dan nama
Author mohon maaf karena ini murni pemikiran author sendri❗
💢dilarang plagiat‼️
🚫Pasal utama: UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 Pasal 9 & Pasal 113
Akademik: Permendiknas No. 17 Tahun 2010
Plagiarisme = mengambil karya orang lain tanpa izin & tanpa mencantumkan sumber
💢jangan lupa vote, comen and follow akun author ya❗