fffahhra
- Reads 41,510
- Votes 3,028
- Parts 32
Jakarta Selatan bukan cuma soal latte art dan Vespa estetik.
Di balik tembok Jalan Sisingamangaraja, ada perang kasta yang nggak pernah diumumin, tapi semua orang tau batasnya.
Haruto adalah definisi sempurna dari "Anak Emas Jaksel". Dengan seragam batik ijo Al-Azhar Pusat (Alpus) yang mentereng, Vespa Sprint edisi terbatas, dan dukungan penuh "Umi-Abi", dia merasa memiliki segalanya. Baginya, hidup adalah soal konten TikTok velocity, open table di club mewah, dan memastikan kasta Alpus tetap berada di puncak rantai makanan.
Di seberang tembok, ada Jeongwoo dan barisan SMA 6-Mahakam. Berandalan dengan batik Ungu kusam, yang lebih akrab dengan aroma asap rokok batangan dan kopi sachet warkop.
Bagi mereka, anak Alpus hanyalah sekumpulan bocah manja yang sok suci di depan guru tapi busuk di balik layar.
"Batik lo boleh disetrika tiap pagi. Tapi nyali lo? Kusut dari lahir."
"Lo kira keras itu keren? Lo cuma berisik karena nggak pernah punya apa-apa."
"Harga batik lo bisa beli sekolah gue. Tapi satu hal yang nggak bisa lo beli? Respek."
"Respek? Itu buat orang yang punya masa depan. Lo aja nggak yakin besok masih di sini."
"Lo selalu bilang gue nggak punya masa depan? Selamat, sekarang masa depan gue... ada di perut gue."
"Berapa minggu?"
Sekarang ini bukan soal sekolah mana yang paling elit.
warning!
• Fiksi
• Boys Love [bxb]
• Mature content
• Male Pregnant [M-preg]
• Harsh word [non baku]