Kapallberlabuh
Noretta Zylvia, gadis tujuh belas tahun yang selalu duduk di bangku paling belakang kelas. Dari luar, ia tampak biasa yahh.. hanya murid pendiam yang jarang ikut bergabung dengan teman-temannya. Namun di dalam kepalanya, ada badai yang tak pernah reda.
Anxiety menyerang diam-diam, membuat napasnya sesak, tangan dingin, dan pandangan kabur. Cutter kecil yang menjadi teman setianya, sebagai pengingat betapa rapuh sekaligus berbahayanya pikirannya sendiri.
Di antara teman-teman yang ambisius mengejar prestasi, Zylvia justru terjebak dalam pikirannya sendiri. Bukan karena ia malas, tapi karena pikirannya terlalu penuh, dadanya terlalu sesak, hingga setiap huruf di papan tulis tampak kabur. Ia ingin fokus, tapi rasa cemas dan luka lama selalu menariknya kembali ke jurang yang sama.
Hingga amarah, kebencian, dan trauma masa lalu mulai membentuk sisi gelap yang terus berbisik, dorongan untuk membalas, untuk melukai, untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar bayangan kepala.
di balik setiap bisikan gelap itu, ada pertanyaan yang tak bisa ia abaikan, apakah benar rasa sakitnya hanya bisa diakhiri dengan kehampaan? Atau masih ada jalan lain yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri?