Zahiraaldanendra
- Прочтений 25
- Голосов 8
- Частей 8
Alara gadis usia enam belas tahun, adalah harapan yang terwujud. Bijaksana melampaui usianya, ia diutus oleh Dewan Cahaya dalam satu misi suci yakni membinasakan 'Pangeran Kegelapan' anak dari Penguasa Iblis yang dikabarkan bersembunyi di menara 1001 cahaya.
Setelah berminggu-minggu melacak Alara berdiri di puncak menara, pedang perak di tangan. Di hadapannya, pemuda bersurai silver menatapnya dengan mata yang lembut, Bukan mata iblis.
"Mengapa kau datang, Cahaya?" suara pemuda itu berbisik memancarkan kedamaian, bukan ancaman.
"Aku datang untuk mengakhiri tirani ayahmu," jawab Alara mantap. Ia telah melihat kehancuran yang tak terhitung jumlahnya. Tidak ada ruang untuk keraguan.
Saat pedang itu terangkat, langit di luar jendela pecah dalam gerhana merah total, Alara menusuk jantung pemuda itu.
Tubuh pemuda itu hancur menjadi debu keemasan yang terbang bersama angin, meninggalkan di lantai sehelai jubah putih dengan lambang Sayap Agung simbol Kerajaan Dewa.
Targetnya memang bukan pewaris Iblis. Dia adalah 'Anak Emas', harapan terbaik dari Dunia Dewa yang diasingkan.
Saat debu keemasan itu menyentuh kulitnya, pedang perak di tangannya berubah. Bilah perak itu melebur, dan di tangan Alara kini muncul sebuah Tongkat Tanduk yang berdenyut Artefak utama Penguasa Kegelapan.
Alara tersenyum dingin. Senyum itu tidak lagi bijak, itu adalah senyum kekuasaan.
"Misi selesai," gumamnya, suaranya kini dalam dan menggema, tidak lagi suara seorang gadis remaja. "Dengan Cahaya telah mati, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa aku, Iblis Agung yang asli, yang mengirim mereka untuk membunuh harapan mereka sendiri."
Ia menatap kota di bawahnya. Topeng pahlawan sudah jatuh. Tahta neraka telah menunggu.