kimxell
- Reads 2,837
- Votes 52
- Parts 2
"Ada rindu yang jatuh berkali-kali tanpa suara, persis seperti renyai sore ini. Sialnya, aku masih mengira diriku tetap kering."
Oline Renjana, selalu bangga pada logikanya yang sekokoh karang. Namun, ia lupa bahwa karang pun bisa terkikis oleh tetesan air yang konsisten.
Kehadiran gadis bermata kucing itu tidak datang seperti badai yang memporak-porandakan; melainkan seperti renyai yang menyusup perlahan melalui celah-celah jendela, membasahi sudut-sudut hatinya yang paling sepi.
Dia tidak tahu dia jatuh cinta. Dia hanya merasa dunianya perlahan-lahan beralih warna, menjadi selembut puisi yang belum sempat dituliskan.