AKaRA_
"Dunia mengatakan bahwa mereka tidak salah, namun isinya yang selalu mengira bahwa merekalah yang bersalah"
Sepuluh anak itu dikenal sebagai anak-anak yang sangat penting, meski hidup mereka dimulai dari luka yang dalam. Aireka tumbuh tanpa ayah ibu, belajar mandiri sejak kecil, menutup rapat rindunya agar tak terlihat rapuh. Bara hidup bersama ayah yang membencinya dan menganiayanya, sementara ibunya telah tiada. Kembarannya, Nobu hidup di rumah yang sama namun merasakan luka yang berbeda: tuntutan nilai, tekanan, dan ketakutan akan gagal. Arina datang dari keluarga yang hancur, lalu kehilangan kedua orang tuanya dalam kobaran api, meninggalkan trauma yang tak pernah benar-benar sembuh. Ryan hidup sebagai anak hasil perselingkuhan ayahnya, selalu merasa dirinya sebuah kesalahan. Kembarannya, Harvey justru menjadi sasaran tuduhan-tuduhan kejam yang tak pernah ia lakukan, membuatnya tumbuh dalam rasa bersalah yang bukan miliknya. Senizya dibesarkan di keluarga workaholic, rumahnya penuh harta namun kosong kehangatan, membuatnya tumbuh naif dan mudah percaya. Syafira membawa luka paling sunyi: ia pernah dijual oleh orang tuanya sendiri demi melunasi hutang, membuatnya kehilangan rasa aman sejak dini. Kevin hidup di rumah yang tak pernah benar-benar menganggapnya ada, membuatnya terbiasa merasa tak terlihat. Aiko selalu disalahkan, selalu menjadi kambing hitam, dan dibully di sekolah lamanya hingga ia belajar menyembunyikan tangisnya dibalik senyum.
Mereka semua dipertemukan oleh keadaan, oleh luka, oleh kesepian yang sama. Di SMA Academy Magic Wand. Mereka mulai saling melihat, saling memahami, dan saling melindungi. Dari reruntuhan masa lalu, mereka membangun keluarga baru: keluarga yang tak terikat darah, tetapi oleh pengertian, empati, dan harapan.
Masa lalu membenci mereka, tapi mereka memilih untuk tak membenci diri sendiri. Dari anak-anak yang terluka, mereka tumbuh menjadi cahaya bagi satu sama lain dan kelak bagi dunia.
"Kita aman, selagi bareng, mengerti?"