minhemine_
Aku pernah mencintai seseorang terlalu dalam hingga lupa bagaimana caranya mencintai diriku sendiri.
Bagiku, Arasya adalah rumah pertama yang selalu ingin aku perjuangkan. Meski berkali-kali dikecewakan, aku tetap bertahan... sampai akhirnya aku memilih pergi demi menyelamatkan hati sendiri. Namun, melupakan ternyata tidak semudah mengucapkan selamat tinggal.
Di tengah usahaku menjalani hari-hari seperti biasa, hidup mempertemukanku dengan banyak hal baru-perkuliahan, pertemanan, dan seseorang yang perlahan hadir di antara cerita yang belum benar-benar selesai.
Aku kira luka hanya soal melupakan.
Nyatanya, ada perasaan yang datang terlalu pelan untuk disadari, lalu pergi terlalu cepat sebelum sempat dihargai.
Dan ketika semuanya terlambat, yang tersisa hanyalah penyesalan... serta bayangan seseorang yang terus hidup di dalam ingatanku.
Apakah cinta selalu tentang memiliki? Atau justru tentang kehilangan yang tak pernah benar-benar selesai?