shiiine
Harum bunga yang semerbak mendampingin musim semi dengan damai, tapi aku disini dengan pikiranku yang terasa ramai. Satu distraksi kecil datang tanpa diundang, tapi cukup untuk membuat pikiranku berhambur tak karuan.
Dia adalah distraksi itu.
Ku lihat wajahnya untuk pertama kali, diam merengut layaknya bunga yang mengkerut diterpa angin musim dingin. Ku coba menyamakan langkahnya yang selalu berada di depanku, bukannya semakin dekat, justru jarak yang aku dapat terasa seperti jurang yang tak terhingga.
Aku berbalik, berniat pergi karena hilangnya harapan. Tapi tangan itu terulur, seolah menawarkanku untuk bergabung ke dalam kisahnya. Dan untuk pertama kalinya, ku lihat wajah itu merekah indah layaknya cherry blossom yang tumbuh di musim semi, membawa kehangatan yang mencairkan keraguan.
Saat itu aku langsung tersadar, bahwa ia bukan sebuah dinding kokoh yang coba badai robohkan. Tapi ia adalah daun gugur yang kehilangan arah diterpa angin. Dia yang tak banyak berbicara, tapi mampu membuatku bungkam seribu bahasa kala tawanya mengudara.