ysc-tmra
- Reads 5,708
- Votes 1,030
- Parts 24
HIMBAUAN! : HARAP MEMBACA S1 TERLEBIH DAHULU AGAR EMOSI DAN JUGA ALUR DAPAT DI TANGKAP SECARA DETAIL DAN MIDAH DI PAHAMI!.
Seorang kakak seharusnya menjadi pijakan tempat adik menjejak ketika dunia terasa terlalu licin untuk dilalui sendiri. Ia adalah bahu pertama untuk bersandar, suara yang paling cepat menenangkan, dan arah pulang ketika langkah mulai ragu. Begitulah seharusnya.
Namun hidup tidak selalu mematuhi "seharusnya".
Ada saat ketika kakak itu harus pergi. Bukan karena tak peduli, bukan karena lelah mencinta, melainkan karena keadaan memaksanya memilih jalan yang tak bisa dihindari.
Ia meninggalkan jejak yang masih hangat, janji yang belum sempat tuntas, dan seorang adik yang berdiri sendirian menatap punggung yang menjauh sambil belajar menelan kehilangan.
Kepergian itu bukan tanpa luka. Pada kakak, rasa bersalah menjelma doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Pada adik, rindu berubah menjadi keberanian yang dipaksa tumbuh lebih cepat dari waktunya.
Di antara mereka, ada jarak yang tak kasatmata namun terasa berat jarak antara ingin tinggal dan harus melangkah.
Prolog ini adalah tentang perpisahan yang tidak diminta, tentang cinta yang tetap tinggal meski raga menjauh, dan tentang seorang adik yang belajar berdiri bukan karena ia siap, melainkan karena pijakan itu terpaksa dilepas.
Dan di balik semuanya, ada satu keyakinan yang tak pernah benar-benar padam. Bahwa pergi tidak selalu berarti meninggalkan, dan menjadi kakak tidak berhenti hanya karena jarak.