ebongzoy
- Reads 1,031
- Votes 59
- Parts 19
Lu telat lagi, nyet," celetuk Bargo sambil menyenggol bahu Mahen saat mereka duduk di pinggir lapangan.
"Iya," jawab Mahen singkat, napasnya masih agak terengah.
"Tadi kena hukum sama siapa? Gua liat lu lari-lari muterin lapangan," sambung Tama, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.
Mahen mengusap tengkuknya, menatap kosong ke arah lapangan yang mulai sepi. "Kak Abi."
"Jirr pelatih kita itu?" Bargo langsung sedikit terkejut."Iya," jawab Mahen pelan."Tapi aneh deh," Tama menyahut, "gua liat si Abi tuh lembut banget kalo sama cewek, cuy."
Mahen tertawa kecil, tapi ada nada jujur di suaranya. "Padahal gua pengen liat dia senyum ke gua sekali aja."
Keduanya langsung menatap Mahen, sedikit heran, tapi akhirnya mengangkat bahu.
"Yaudah, jadi cewek aja sono," ucap Tama ngasal. "Gila lu," Mahen nyengir sombong, "kagak mungkin. Gua kan cakep. Lupa ya siapa primadona SMA Cendana?"
Bargo mendengus. "Iya-iya, Prabu mahendra adigwangsa sang primadona. Tapi tetep aja kena hukum."
PENASARAN AMA CERITA NYA? HAYUK BACA😍😋