dhariejkV
Juhoon adalah laki-laki yang memilih tenang ketika dunia terasa kacau. Ia memeluk stoicism bukan sekadar sebagai filosofi, tapi sebagai cara bertahan hidup, menahan emosi, dan mengendalikan reaksi. Baginya, luka adalah pelajaran, bukan alasan untuk mengeluh. Di sisi lain ada Zora, sahabat kecilnya yang tumbuh bersama namun tak pernah benar-benar tanpa jarak, selalu ada dinding tipis yang membatasi kedekatan mereka.
Zora yang lima tahun lebih tua tampak lebih memahami dunia, sementara Juhoon sibuk memahami dirinya sendiri. Namun saat waktu membawa mereka pada pertemuan yang lebih dewasa dan lebih rumit, akankah prinsip Juhoon tetap kokoh, atau justru Zora yang perlahan meretakkan ketenangannya? Dan pada akhirnya, bagaimana akhir kisah mereka, Zora dan Juhoon?