Adinarae
Nindhiya hidup dengan tenang, terlalu tenang, sampai dia nggak sadar kalau hidupnya terasa kosong.
Sampai Aksara datang.
Nggak dengan cara yang dramatis.
Nggak juga dengan sesuatu yang luar biasa.
Cuma percakapan sederhana yang, entah kenapa... nggak pernah terasa cukup untuk diakhiri.
Dari kebiasaan kecil, mereka jadi dekat.
Dari kedekatan itu, tumbuh rasa yang nggak pernah mereka beri nama.
Mereka tertawa lebih lama dari yang seharusnya.
Berbagi hal-hal sepele, tapi terasa berarti.
Pelan-pelan, tanpa sadar, mereka jadi tempat pulang satu sama lain.
Sampai akhirnya, satu hal yang nggak pernah mereka bicarakan... mulai terasa semakin nyata.
Perbedaan.
Bukan cuma soal cara berpikir,
tapi tentang keyakinan yang nggak bisa ditukar, nggak bisa dinegosiasikan, dan nggak bisa dikalahkan oleh perasaan.
Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Tetap bersama, tapi kehilangan diri sendiri.
Atau saling melepaskan... sebelum semuanya terlambat.
Ini bukan kisah tentang siapa yang kurang berjuang.
Ini tentang dua orang yang saling mencintai,
dan cukup dewasa untuk nggak memaksakan.