TyalisPrameswari
- Reads 29,879
- Votes 2,979
- Parts 34
Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
Masyarakat Soeraandaru tidak menyadari bahwasanya telah banyak yang berubah di balik dinding kokoh Kedhaton. Kedhaton memang tampak tenang seperti biasanya, namun yang tidak mereka sadari dan tidak boleh mereka ketahui, seperti ada aturan mutlak yang tidak tertulis bahwa, dimulai dari generasi kepemimpinan Sri Sultan Soerasadewo ke-XI, dan diteruskan pada generasi ke-XII, pada generasi ini lah secara tidak langsung Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat melarang siapa pun di lingkungan Kedhaton untuk membicarakan perihal seorang selir. Sebab, menantu Kedhaton pada generasi ke-XII, yaitu B.R.Ay. Anaya Hayu Anindyaswari seperti merealisasikan ketakutan orang-orang Kedhaton jikalau hadir selir di Kedhaton. Maka, dalam rentan waktu beberapa hari kemudian, mereka akan menyaksikan tubuh seseorang terbujur kaku tanpa nyawa.
"Jangan pernah kamu tinggalkan cunduk mentul ini, Nduk. Jadikan ia benda yang membuat calon lebah berpikir berpuluh-puluh kali berurusan denganmu." - G.K.R. Serena Kahiyang Ayu Waskita.
"Nanti Yala minta tolong Mbak Seluni memalahi olang-olang yang dekat-dekat Mamas." - R.A. Dahayu Agniyara Andaru.
"Lihat, Raden. Versi dewasa dan versi kecil sudah bergerak menjadi garda terdepan pelindung Hayu. Awas ya kamu tidak peka malah dekat-dekat gadis genit, tak tinggal kowe." - Yasa.
"Saya?"- Raden.
Main Cast :
Sunghoon as G.R.M. Abyasa Hadyan Andaru.
Pharita as Anaya Hayu Anindyaswari.