riliiiii
Rasa lelah itu seakan tak pernah hilang dari diri seorang penulis bernama Hanin andaira kusuma. Puluhan novel telah ia hasilkan. Namanya terkenal di dunia sastra. Namun di balik keberhasilan itu-ia merasa hampa seolah masih ada yang kurang dalam setiap karyanya.
Suatu pagi, suara ketikan laptop berpadu dengan gemericik air dari poci kecil, hening yang nyaman menjadi teman setia di rumahnya yang sepi.
"kenapa sih selalu ada yang kurang?" gumam hanin menatap layar kosong.
notifikasi ponselnya berbunyi
"berr-berr"
"Eh, siapa yang chat pagi-pagi?" Pikirnya heran.
Nomor tak dikenal mengirim pesan
+62xxxxxx: p
+62xxxxxx: save azkara tatih handoro kelas musik. Panggil azkara aja
Hanin tersadar sudah seminggu ia ikut kelas musik untuk mengurangi rasa lelah. Tapi belum pernah menyimpan nomor teman sekelasnya, ia pun membalas singkat.
you: ok
askara kelasmusik: gitu doang
you:?
askara kelasmusik yaudah sampai ketemu di kelas
Percakapan berakhir. Hanin melirik jam dinding 08:32. Kelas dimulai pukul 10, ia bergegas bersiap, lalu mengayuh sepedanya menuju tempat kursus. Udara pagi terasa segar sampai sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya.
"Ciiit!!"
Jantung Hanin berdegup kencang. Dari mobil itu keluar seseorang yang tak asing, Rendi ambara jihantoro, mantan kekasih yang ia tinggalkan karena keegoisannya.
"Yang, kenapa kamu mutusin aku?" Suara Rendi menggoda seakan tak terjadi apa-apa.
"Inget ya! Lo bukan pacar gue lagi!" Jawab Hanin tegas.
Namun Rendi tetap memohon menahan pergelangan tangannya, berusaha mengulang cerita lama.
Hanin menepis dan mengayuh sepedanya, meninggalkan lelaki itu bersama kenangan yang sudah ia buang jauh-jauh.
Sesampainya di kelas musik-Hanin mencoba menenangkan diri hingga kemudian seseorang berteriak memanggil namanya dari lorong.
"HANIN....!!"
Ia menoleh seorang laki-laki tinggi dengan senyum hangat melambaikan tangan askara.
Hanin tersenyum tipis. Sebuah pertemuan kecil yang tak ia sangka akan berubah perlahan.