Lallzzx
- Reads 26,402
- Votes 1,388
- Parts 77
Areksa Zeiyhus Devanenta.
Sebuah nama yang di permukaan tampak seperti mahakarya dingin, tak tersentuh, dan dipenuhi bakat yang memukau mata. Namun, di balik topeng kesempurnaan yang ia kenakan, jiwanya tak lebih dari sekadar rongsokan yang dipaksa bertahan.
Di palung hatinya yang paling dalam, terdapat luka yang tak pernah mengenal kata sembuh. Luka itu masih basah, menganga, dan berdenyut pedih setiap kali napasnya berembus.
Baginya, kasih sayang adalah bahasa asing yang tak pernah ia pelajari. Sebagai gantinya, ia kenyang dengan santapan harian berupa cacian yang menyayat rungu, tamparan yang memalingkan wajah, hingga hantaman fisik yang membekas biru di kulit putihnya.
Ia sering menatap pantulan dirinya di cermin, melihat sepasang mata predator milik keluarganya tercermin di sana mata yang menatapnya bukan sebagai darah daging, melainkan binatang buruan yang siap dikuliti kapan saja. Anehnya, Areksa tak mampu membenci. Perasaannya sudah lama mati pucuk; ia hanya merasa kosong. Hampa. Seolah seluruh isi dunianya telah lumat menjadi abu.
Bahkan ketika ia sempat menghirup udara di luar "neraka" itu setelah diusir oleh Aditya Devanenta, kebebasan itu hanyalah fatamorgana. Ayahnya membiarkannya merenung di bawah langit malam yang dingin, hanya untuk menyeretnya kembali ke dalam jeruji rumah yang sama. Ia dipersilakan pulang ke pusat luka, seolah luka lama telah mengering, padahal ia hanya dipulangkan untuk disiksa kembali.
Hidup Areksa adalah sebuah siklus penderitaan yang estetik namun mematikan. Ia adalah pangeran di mata dunia, namun budak di bawah atap keluarganya sendiri.
Saat luka lama mulai membusuk dan jiwa yang baru mengambil alih, siapakah yang akan bertahan di akhir permainan berdarah ini?
-Areksa Zeiyhus Devanenta.