uqlwlrma
- Reads 4,066
- Votes 1,000
- Parts 14
Jung Jaehyun, anak yang sejak kecil hidup dalam bayang-bayang ekspektasi dan ambisi orang tuanya.
Sejak usia 10 tahun, ia sudah memegang buku-buku pelajaran orang dewasa, dikurung dalam dunia sunyi yang hanya dipenuhi buku dan tuntutan. Dunia di balik jendelanya-tempat anak-anak seusianya tertawa dan bermain-hanya bisa ia saksikan dalam diam.
Kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan, tergantikan oleh tekanan dan target menjadi CEO terkaya di Seoul.
Ia belajar arti keras, bukan dari pilihan, tapi karena kewajiban.
Namun, di tengah hidup yang kaku dan dingin, ada satu tempat yang membuat Jaehyun bisa bernafas lega-Desa Jeju. Di sana, bersama kakeknya, ia menemukan ruang kecil yang hangat. Satu-satunya orang yang pernah benar-benar memahami dirinya.
Ketika sang kakek ingin memindahkannya ke Jeju untuk sekolah, orang tuanya menentang. Tapi kakeknya lebih keras kepala dari mereka. Dan untuk pertama kalinya, Jaehyun dipilih, bukan dipaksa.
Meski sudah berada di Jeju, Jaehyun tetaplah Jaehyun yang pendiam. Ia masih belajar sendirian di penginapan, masih sulit berbicara dengan siapa pun, masih melihat dunia dari kejauhan.
Sampai suatu hari, kakeknya memperkenalkannya pada seorang gadis pengantar ikan bernama Lalisa.
Gadis yang hidup sederhana, namun menyimpan luka yang dalam. Tanpa orang tua. Tanpa panggung. Tapi tetap mampu tersenyum.
Dari pertemuan yang tak terduga itu, cahaya perlahan datang.
Ini bukan hanya tentang dua remaja yang bertemu di pulau Jeju. Ini tentang dua jiwa yang sama-sama terluka, dan perlahan belajar menyembuhkan.
"Terkadang, cahaya datang bukan untuk menerangi jalanmu. Tapi untuk menunjukkan bahwa kamu tidak sendiri."