perihalrasa0
- Reads 1,087
- Votes 140
- Parts 2
"Hua, Bunda! Gigi Kai patah!" tangisan seorang remaja enam belas tahun membuat seisi rumah heboh.
Sebut saja ia Kaiden, pemuda yang begitu cengeng jika di depan orang-orang yang dirinya sayangi.
Namun, di balik semua itu terdapat sebuah sisi yang selalu ia tutupi, terutama di depan ibunya. Kai yang penurut dan bertutur kata manis itu nyatanya jika di luar rumah, akan menjadi seperti remaja pada umumnya: pemuda yang bengal dan begitu keras kepala.
Kai selalu memiliki moto hidup:
"Selagi Bunda ada, selagi Bunda masih berada di sisi Kai, maka semua akan terasa baik-baik saja."
Kaiden juga tak memandang jika hidupnya sempurna, namun juga tak merasa berantakan. Meskipun terselip rasa sakit yang pernah ia alami, namun perlahan dirinya dapat menerima takdir yang terkadang memang suka bercanda.