ainecelestt
- Reads 2,349
- Votes 341
- Parts 8
Di Desa Garon, gamelan seolah memiliki denyut nadi sendiri, tak pernah benar-benar mati, merayap di antara asap rokok gardu, senggakan wiyaga, harum kemenyan, dan kisah-kisah yang lahir di bawah temaram bohlam. Malam-malam yang tenang itu terusik kala Kalingga pulang dari rantau, membawa serta gelora yang membuat hidup Galuh tak lagi berjalan lempang.
Semua bermula dari ngibing lancang di tengah pendopo, sepintas sampur merah dan wangi kenanga yang ditebar tanpa permisi. Galuh, sang penari ayu kesayangan banyak mata, perlahan limbung, terseret menjadi pusat perkara. Sementara Kalingga, ia datang bagai tembang Jawa lawas, terdengar ringan mengalun di awal, namun diam-diam merasuk, menetap paling lama di kepala. Garon, dengan segala adat dan bunyi warisan leluhurnya, punya cara tak kasat mata untuk menjalin rasa, manusia, dan tradisi menjadi seloka kerumitan yang tak sederhana.
"Udu pacar, udu bojo, kok dihak milik."
"Ndang mari, Cah Ayu... sampun sonten."
"Wes ben, kalau sama Galuh rapopo."
Jika hati mampu menari seindah gamelan berbunyi, kiranya siapa yang akan lebih dulu karam, jatuh terlalu dalam?
BXB story
Sanwoo (San: dom & Woo: Sub)
Boypussy/mpreg/gay/kata kasar
- mengandung unsur tradisi