avanrdfg
Ia mengira semua ini hanya ilusi. Sebuah halusinasi yang tercipta dari penyesalan yang tak kunjung usai. Namun, kenyataannya, ia benar-benar diberi waktu tujuh hari-bukan untuk mengulang, tapi untuk memperbaiki. Semua kesalahan, semua luka yang telah ia sebabkan, semuanya kini ada di tangannya.
Tujuh hari.
"Maafkan aku... Maaf, maaf, maaf."
Namun, apakah waktu sesingkat itu cukup untuk menebus segalanya? Apakah ribuan kata maaf bisa menghapus semua jejak luka yang telah ia ukir? Atau, pada akhirnya, takdir tetap akan membawanya pada kehilangan yang sama?