damnnottrue
- Reads 459
- Votes 24
- Parts 11
Kepindahannya sembilan tahun lalu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Alaska memilih sendiri. Menyendiri. Ia meyakini tak ada seorang pun yang mampu memahaminya-kecuali Gef dan Sang Bunda.
Menjadi melophobia bukanlah pilihan. Ketakutan pada musik justru memaksanya hidup dalam kepura-puraan. Alaska yang dulu telah mati, digantikan oleh sosok baru yang mengenakan topeng sempurna.
Ia berpura-pura mencintai musik.
Berpura-pura memiliki selera tinggi.
Berpura-pura memakai earphone ke mana pun pergi-padahal alat itu hanya menjadi pelindung dari setiap lantunan yang mampu meruntuhkannya.
Ia hadir di setiap pentas band sekolah, tersenyum, bertepuk tangan, dan kembali berpura-pura.
Semua dilakukan agar ia tak dianggap aneh.
Semua adalah dusta demi bertahan.
Hingga sosok itu datang dan menghancurkan segalanya.
Mikael Sadewa.
Laki-laki bertubuh tinggi, kurus, dan menyebalkan-orang yang paling Alaska benci. Mikael mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melihat Alaska apa adanya, tanpa topeng. Dan lebih buruknya lagi, ia tak berusaha berpura-pura tidak tahu.
"Hidup tanpa musik? Lo mati."
Kalimat itu menjadi awal dari runtuhnya dinding pertahanan Alaska.
Karna tak semua luka bisa disembunyikan.
Dan tak semua topeng diciptakan untuk selamanya.