MmyJimin
- Reads 10,566
- Votes 1,897
- Parts 36
Ada yang bilang kematian adalah akhir dari segalanya. Tapi bagaimana kalau kematian justru memberimu kesempatan untuk memulai dari hal yang paling menyakitkan, yaitu awal segalanya?
"Aku mati di usia 29 tahun dengan berkas yang selesai dan ruangan yang kosong. Tidak ada yang menangis. Bukan karena aku tidak berarti tapi karena aku tidak pernah memberi ruang untuk siapa pun mencintaiku."
- Carleya Miranda.
Carleya Miranda adalah jaksa muda paling ditakuti di kotanya. Mejanya selalu penuh berkas, kopinya selalu dingin, dan hidupnya selalu habis di ruang kerja yang sepi. Di usia dua puluh sembilan tahun, ia mati karena serangan jantung! bukan oleh musuh, bukan oleh takdir yang kejam, melainkan oleh tangannya sendiri yang tidak pernah belajar berhenti.
Tapi kematian bukan akhir ceritanya.
Carleya terbangun di kamar sempit tempat dimana ia dan neneknya tinggal dan mencari uang, tahun 2009, tubuh empat tahun, dengan seluruh ingatan dua puluh sembilan tahunnya masih utuh. Di rumah yang dindingnya memakai kayu, kamar mandi yang tidak ada dan harus ke sungai, ia menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari ruang sidang mana pun, ia punya kesempatan kedua, tapi tidak tahu apakah ia pantas mendapatkannya.
Di antara upayanya berpura-pura menjadi anak kecil biasa, menyelamatkan keluarga kandungnya dari kehancuran yang ia tahu sudah pasti, dan beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai putri adopsi keluarga Wang pemilik toko perhiasan terkemuka di kota TS!,ada satu nama yang selalu kembali. Satu wajah. Satu perempuan bermata hangat yang di kehidupan pertama ia cintai lalu tinggalkan demi kebahagian yang semu (karir).
Kali ini, Carleya tidak akan pergi. Tapi mencintai seseorang dengan benar tanpa dinding, tanpa jarak, tanpa selalu mendahulukan kemenangan ternyata jauh lebih sulit dari kasasi tersulit yang pernah ia tangani.
"Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh prestasi.
Dan ada hal-hal yang hanya bisa diperbaiki
kalau kamu berani memulai dari awal."