NANGIS BOMBAI EDITION
9 cerita
Dierja Gentala, 1997  oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 693,063
  • WpVote
    Vote 47,442
  • WpPart
    Bab 20
[Part Lengkap] Kehilangan kali ini adalah awal dari kerasnya hati dan kepalaku. Aku mendadak bisa menjadi monster yang paling menakutkan sekaligus mematikan untuk anak-anakku. Bahkan di saat mereka masih tak paham bagaimana cara semesta yang keji ini bekerja tanpa sosok ibu di dalamnya. "Nak, kalau bisa, cari saja Bapak yang lain, jangan bertahan dengan sosok Bapak seperti aku." "Bapak mu ini monster yang tidak punya hati." -Lilpudu Copyright, 2O22.
LAUT SEBELUM PASANG oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 20,003
  • WpVote
    Vote 1,336
  • WpPart
    Bab 2
1988 adalah tahun dimana kebahagiaan masih menyelimuti keluarga Purnomo. Tahun dimana Ibu masih ada, sebelum bintang paling terang pergi keperaduannya. Copyright, Lilpudu, 2024.
Dari ayah, untuk abang ✔  oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 1,307,142
  • WpVote
    Vote 26,107
  • WpPart
    Bab 2
[sedang direvisi] Tidak peduli bagaimana tubuh itu di terpa angin, hujan, ombak, bahkan badai sekalipun. Punggung Ayah akan tetap menjadi yang ter-kokoh, meski kadang lutut itu membentur tanah berkali-kali, namun nyatanya dengan senyuman tulus ia kembali bangun, berdiri seperti tidak ada rasa sakit. Copyright- Lilpudu, 2O21
Tinta Terakhir ✔  oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 2,028,420
  • WpVote
    Vote 232,776
  • WpPart
    Bab 29
[Sudah dibukukan, part lengkap] versi novel bisa dipesan melalui shopee : penerbit.lovrinz01 Bagi Wisnu, hal yang paling menyakitkan adalah ketika dihadapkan dengan perpisahan. Karena mau bagaimana pun caranya, bagaimana pun keadaanya, perpisahan adalah hal yang paling Wisnu benci. Copyright- Lilpudu, 2O21
MERAYAKAN KESEDIHAN  oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 96,038
  • WpVote
    Vote 9,842
  • WpPart
    Bab 6
[PREVIEW] Sebuah kisah yang ditulis dari sudut pandang raga-raga yang tersisa. Untukmu, untuk raga yang telah pergi. -Copyright, LILPUDU, 2023.
NAMANYA ARUM. oleh ElAlicia
ElAlicia
  • WpView
    Membaca 156,406
  • WpVote
    Vote 25,592
  • WpPart
    Bab 33
Kota Pelabuhan, 1965 Arum adalah seorang gadis pantai yang gesit dan trengginas selayaknya ombak di kala hujan. Hidupnya di kota pelabuhan itu berjalan damai dan tenteram bersama ayahnya yang sangat ia kasihi. Tak pernah sedikit pun, terbesit dalam pikiran Arum untuk meninggalkan kota itu. Namun, perlahan-lahan hidupnya berubah sejak kehadiran seorang pria antah berantah di kota itu yang sering dipanggil Mas Danu. Pria itu tak jelas asal-usulnya dan semua tentang pria itu abu-abu; termasuk tujuannya pada Arum. All rights reserved, ElAlicia Start: Januari 2021 Historical Fiction, Post-Modern. Credit cover: Basoeki Abdoellah May contain some mature scenes
Se(lara)s✔️ oleh UmiSlmh
UmiSlmh
  • WpView
    Membaca 215,983
  • WpVote
    Vote 20,073
  • WpPart
    Bab 48
[Brothership/Sicklit/Slice of Life] Ghava hampir melupakan masa-masa kelam ketika dirinya harus kehilangan orang yang paling ia sayang. Ia hampir sembuh dari kesakitan yang tiga tahun belakangan menyiksa batinnya tanpa ampun. Namun, hal itu hanya angan ketika tiba-tiba Tuhan mempertemukannya dengan orang yang sangat mirip dengan saudara kembarnya. "Ayah, berapa persen kemungkinan orang punya wajah sama di dunia ini?" "Apa dia benar-benar sudah mati?" "Katanya, di dunia ini kita tuh punya 7 kembaran."
Laut Pasang, 1994 (SEASON 2) oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 269,724
  • WpVote
    Vote 18,328
  • WpPart
    Bab 7
Karena sejatinya, semua manusia di bumi ini akan saling meninggalkan. Lebih tepatnya, semua tidak kekal. Manusia akan datang dan pergi. Begitu seterusnya. Copyright, -Lilpudu, 2023.
Laut pasang, 1994  oleh Lilpudu
Lilpudu
  • WpView
    Membaca 1,933,332
  • WpVote
    Vote 77,393
  • WpPart
    Bab 14
PART TIDAK LENGKAP. [Sudah dibukukan - Tersedia di Gramedia] Peristiwa yang menghancurkan seluruh kota dalam waktu singkat. 7 raga paling menyedihkan menjadi saksi bagaimana gilanya gelombang pasang malam itu. Malam terakhir penuh bintang, seindah senyuman ibu 6 tahun silam. "Apta! Esa! Pegang tangan Mas yang kenceng!" Copyright- Lilpudu, 2O22.