JihanMantee96
- Reads 161
- Votes 38
- Parts 18
Bau kemenyan dan sisa lilin yang terbakar di sudut aula terasa seperti aroma pemakaman bagi Soren Mikhail Valerius. Di bawah sorot spotlight yang menguliti harga dirinya, Soren duduk membeku di hadapan ribuan kursi kosong yang menghakiminya seperti hantu. Jemarinya gemetar di atas tuts piano Steinway hitam yang dingin; dunianya telah menjadi sunyi sejak malam ia terjebak dalam sangkar emas ini.
"Kau terlambat satu ketukan, Soren."
Suara itu berat dan beresonansi dengan otoritas mutlak. Alistair Vance Thorne muncul dari kegelapan. Langkah sepatunya terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Tanpa setelan formal, kemeja hitamnya yang tergulung memperlihatkan tato yang melilit hingga ke punggung tangan-tangan yang kini ia letakkan di atas piano dengan ancaman yang nyata.
"Aku tidak butuh maafmu. Aku butuh musikmu," Alistair membungkuk, membisikkan aroma cologne mahal dan bau mesiu ke telinga Soren. Tangannya melingkari leher Soren, menekan nadi yang berpacu liar. "Musik adalah alasan aku membiarkanmu hidup setelah kau mencoba lari. Jika jemari ini tidak bisa menghasilkan keindahan, mungkin aku harus mematahkan satu per satu agar kau ingat cara memohon."
Soren terisak, air matanya menodai tuts putih yang bersih. Di bawah bayang-bayang Alistair, Soren bukan lagi manusia; ia adalah instrumen yang sedang dimainkan hingga rusak. Dengan napas tersengal dan jiwa yang hancur, ia mulai menekan nada minor yang tajam-sebuah simfoni yang ditulis dengan darahnya sendiri untuk memuaskan sang iblis yang menjaganya.