Selesai
4 stories
Sky, Pacaran Yuk! (Segera Terbit) by kyumi7232
kyumi7232
  • WpView
    Reads 1,061,239
  • WpVote
    Votes 19,739
  • WpPart
    Parts 57
Dia, Sky. Cowok itu tak pernah tersenyum, tak pernah menyapa. Manik birunya itu selalu menatap Pelita tajam. Tubuh bongsornya menakutkan, ia seperti akan meremukkan lawannya dalam sekali cengkeraman dan itu terbukti benar. Okay. Pelita akui ia sering melihat kemarahan jenis serupa. Tapi ini berbeda, Sky seperti kingkong besar yang mengamuk malam itu. Dia tidak mengenal kata perempuan, dia abai pada kondisi Anggie yang memucat ketakutan. Pun luka mengenaskan dengan beling yang menancap di betis perempuan itu. Juga bagaimana laki-laki itu mencekik Rangga, dan menghajarnya membabi buta. Jika teman satu perkumpulannya saja diperlakukan sedemikian. Bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan Pelita yang sedari awal telah mencari gara gara dengan Sky? ***
Sherapina by kyumi7232
kyumi7232
  • WpView
    Reads 187,682
  • WpVote
    Votes 777
  • WpPart
    Parts 3
Jika ada yang bertanya pada Leon manakah diantara ketiga pilihan ini yang berpengaruh besar menghancurkan hidupnya sebagai lelaki. Harta, Tahta, atau Wanita? Maka Leon akan menjawab bahwa untuk saat ini wanitalah yang menjadi deretan teratas penghancur hidupnya. Leon bahkan tak yakin bahwa hatinya didalam sana masih utuh, setelah dirinya mengetahui kebenaran paling menyakitkan yang dialami secara bersamaan olehnya. Tunangannya berselingkuh. Saudara sepupu yang dipercayainya menusuknya dari belakang. Dan seakan tak cukup sakit dengan semua itu, Leon juga harus menerima tamparan pedih bahwa calon istrinya meninggal, tepat di hari pernikahan mereka. © 2019. Ana/kyumi7232. Lalu, kegilaan lain datang disaat Leon tak lagi percaya akan namanya hati dan perempuan. ...... Sherapina menjadi gadis yang harus dirinya lindungi perasaannya ditengah kehidupan bebasnya yang tak ingin berkomitmen dengan siapapun. Start; 23 November 2019.
Human Addiction ✔️ by kyumi7232
kyumi7232
  • WpView
    Reads 229,087
  • WpVote
    Votes 1,050
  • WpPart
    Parts 8
"Abang nggak capek bersikap sebatu ini pada kita? Bang, kita ini keluarga jika Abang lupa." Yoga menyandarkan punggung pada tembok dengan tangan terlipat di dada. Ekspresinya datar, dan Jerome perlu memejangkan mata untuk menahan diri agar tidak meledak melihat itu. "Dalam segala hal Abang pintar. Dalam segala bidang abang hebat. Lalu kenapa dengan urusan hati abang bodoh? Kenapa Abang terus terusan menyakiti Mama?!" "Bang!" "Jangan berteriak padaku!" Yoga menyentak tak kalah keras. Bola mata serupa itu saling memandang sengit, namun ketajamannya jelas Yoga lebih unggul. "Apalagi mengataiku bodoh jika kamu tidak lebih pintar dariku!" "Setidaknya aku tidak pernah menyakiti orangtuaku. Percuma unggul dalam segala hal jika etika terhadap orang yang lebih tua tidak punya. Sampai kapan abang akan bersikap sedingin ini? Sampai salah satu diantara kami ada yang mati? Iya?" Yoga terkekeh, bukan karena geli. Kekehan itu lebih kepada menutupi luka, dan seberapa besar keinginannya untuk menghajar Jerome membabi buta. "Lo nanya sampai kapan 'kan?" Yoga menggeleng, lantas mundur perlahan. "Sampai gue berhasil menemukan secuil aja kenangan manis bersama mereka di otak gue. Secuil saja, Rom. Dan satu lagi," Yoga mengangkat jari telunjuknya ke udara. "Gue tumbuh besar dalam didikan kakek. Jika lo diajari etika oleh mereka, maka gue cuma diajari gimana caranya unggul dalam segala hal. Tanpa hati, tanpa terkecuali."
Belenggu ✔️ by kyumi7232
kyumi7232
  • WpView
    Reads 6,068
  • WpVote
    Votes 399
  • WpPart
    Parts 36
"Jadilah pelacurku!" Mungkin Jovanka tuli, sebab ia menangkap kata asing dari suara berat Jerome. Juga bagaimana tatapan pria itu yang semakin mendingin. "Ya? M-maksud, Ba-," "Jadilah pelacurku apa kamu tuli!" Kini Jerome membentak nyaring. Jovanka terperanjat, suara jantungnya sampai terdengar jelas di telinganya. "Saya tidak butuh uang kamu, juga rumah sialan itu, saya tidak peduli! Proyek itu akan tetap berjalan, Royal Plaza akan tetap berdiri megah, kecuali. Kecuali kamu mau menjadi pelacur saya, memberi saya kepuasan maka kamu akan mendapatkan rumah itu kembali." Bagaimana kalimat perkalimat itu diucapkan dengan begitu lancar. Dan apa Jerome tidak bisa melihat bagaimana air mata gadis yang baru saja ditawarinya menjadi pelacur itu kini meluruh jatuh membasahi bola matanya lalu turun dikedua pipinya. Bukankah itu sangat menjelaskan bahwa setiap perkataannya telah berhasil melukai kehormatannya sebagai seorang perempuan. "Kamu hanya punya waktu sampai besok. Keputusan kamu yang akan menjadi penentu bagaimana nasib rumah itu. Dan jangan anggap diri kamu special, karena semenjak kamu memutuskan pergi dengan pria lain, bagiku kamu tidak lebih dari wanita murahan diluar sana." ***