Stiuuuu
Di masa lalu, saat Aistia masih memancarkan kelembutan bagai embun pagi yang belum tergores kerasnya kehidupan, takdir mempertemukan mereka . Di detik itulah, hati Alif jatuh-sebuah cinta yang lahir dari pandangan pertama, tertanam kuat, akan tetapi Ia memilih memendamnya karena takut salah langkah.
Kembali mereka bersua di Ponpes, di mana Aistia perlahan mulai menanggalkan lapisan keras itu, membiarkan keaslian dirinya tumbuh kembali. Di tengah proses penyembuhan itu, hati Aistia akhirnya mengakui ia pun mencintai Alif. Namun, Aistia merasa dirinya tak setara. Ia memilih memeluk perasaan itu sendirian, percaya bahwa jarak di antara mereka terlalu lebar untuk dijembatani.
Namun, takdir tak pernah sederhana. Cinta mereka terjalin di tengah anyaman yang rumit, karena ternyata, kasih yang tersimpan di hati Alif pun berdenyut sama di dada kakak kandungnya. Dua hati dari satu darah yang sama bergetar untuk satu sosok, menciptakan kebingungan.
Belum selesai di situ, masa lalu Aistia pun kembali mengetuk pintu waktu. Rian-sosok yang pernah hadir di hidupnya, kini datang bukan sebagai bayangan lama, melainkan sebagai pribadi yang telah berubah jauh lebih baik. Ia datang membawa janji yang pernah diucapkan yang kini ingin ia tepati, seolah waktu mengirimkan tawaran lain bagi hati Aistia yang sedang bimbang. Di antara diamnya perasaan, persaingan yang tak terucap, dan janji masa lalu yang kembali hadir.
Aku diam, bukan karena tak ada rasa. Melainkan menjaga rasa ini agar tetap suci dan kelak disampaikan dengan cara yang di ridhoi sang pencipta.
- Saif Ezralif Al - Fatih
Cukup diam, doakan dan ikuti takdir.
-Aistia Elara Safira
Cinta yang hadir tanpa permisi, terikat oleh darah namun terhalang oleh hati yang sudah berpihak.
-Evan Ezra Al -fatih
Aku kembali sebagai sosok yang telah berubah, membawa janji lama yang ingin kutepati, meski kutahu mungkin tempat di hatimu kini sudah milik orang lain.
- Rian Raziq