astroST7
- Reads 2,631
- Votes 424
- Parts 9
Lautan kegelapan dalam jiwa Retak'ka terasa kental dan mencekam. Dahulu, Solar bersinar dengan kebanggaan di sana, mengira ia telah menemukan inang yang ambisius dan tak tergoyahkan. Namun, kebanggaan itu membusuk menjadi kengerian saat ia menyaksikan tuannya berubah menjadi monster serakah. Retak'ka bukan lagi pahlawan, melainkan lubang hitam yang menelan segalanya. Dari sudut kesadaran yang gelap, Solar membeku menatap kelima cahaya yang terperangkap bersamanya. Pemandangan itu adalah mimpi buruk abadi.
Thorn meringkuk dalam kesedihan yang merobek sukma. βTaufan berkedip liar, nyaris gila karena kehilangan kebebasan udaranya. βIce menatapnya dengan kedinginan yang penuh penghinaan. βBlaze memancarkan amarah yang membakar, seolah dendamnya sanggup menghancurkan segalanya.
βNamun, yang paling menghancurkan Solar adalah Halilintar. Tatapan merahnya setajam belati petir, menghakimi Solar dengan pesan bisu: "π²ππ ππ
ππππ ππππ πππππππ πππ. π²πππππ ππππ ππππππππππ ππππππππ πππππ ππππππ
π πππππππ." Solar merasa kotor. Ia merasa menjadi akar dari segala dosa Retak'ka.
Kehancuran itu akhirnya datang saat Hangkasa menumbangkan Retak'ka. Solar merasakan jiwanya terseret paksa keluar, terhisap ke dalam Power Sphera kuning bersama enam elemental lainnya-termasuk Gempa yang baru saja bergabung. Dalam kelelahan jiwa yang hebat, Solar tenggelam dalam hibernasi panjang, berharap semua duka ini sirna.
Klik.
Solar terjaga, terlempar dari kehampaan dingin ke raga baru yang hangat. Sinar mentari membasuh kamar kayu beraroma cokelat-sebuah "rumah" yang terlalu asing dibanding istana beku Retak'ka. Meski tenang, jantung Solar berpacu hebat. Di balik kilau itu, matanya menyimpan trauma dalam.
Disclaimer:
1. No LGBT: Murni persaudaraan (platonic).
2. Tema: Pemulihan Solar